Full Width CSS

Tuesday, 10 May 2016

Tiga Sajak Kerinduan Saat Hujan



Aku Kain Usang

Dulu aku tak percaya wanita lain
selain dirimu, karena aku yakin
walau sering kita beda paham
cinta jua akan jumpa bahagia

Tapi tingkahmu membimbingku
ke jurang kesedihan, jurang yang dalam
dan gelap tanpa harapan.

Bagimu, aku kain usang
yang tak menarik lagi

Sesekali kau hadir dalam mimpi
semata memastikan
kesengsaraan

Kau, perih dan kenangan
tak beranjak dari hati ini


Makassar, Februari 2016.
***


AJARI AKU

Ajari aku
Agar rindu ini tak semu
Sebab puranamaku, pula purnamamu

Seperti langit dan tanah kelahiranku
Pula pasir dan biru lautmu
Nampak bersama, namun tak menyatu

Ajari aku
Agar kau tak pudar di hatiku
Sebab disini, ada wajah selain wajahmu

Di rintik hujan sepertiga malam sendu
Dengan kata ku lukis wajahmu
Kiranya nanti, rindu ini tak berlalu

Makassar, Februari 2016
***


Selimut Kalbu

Adalah cinta
ia yang terhempas di persimpangan
hilang arah tiada rasa

Bergumam rindu
kala ragu menyatu, awan
hitam pun kelabu merayu

Adalah cinta
kita pisah pun jumpa di kerajaan
tanpa anggur penuh cahaya

Selimut kalbu
sekali aku menunggu, hujan
reda kau berpilu

Makassar, Januari 2016

Friday, 6 May 2016

Setelah 27 Hari

Tepat setelah hari ke-27 dari tanggal kelahiranku. Seorang yang tidak ingin disebutkan namanya, mengirimkan pesan lewat facebook. Pesan itu berisi untaian kata-kata (baca: puisi) yang cukup menarik untuk sebuah ucapan ulang tahun, walaupun memang belumlah sekelas kumpulan puisi Jamil Massa dalam "Sayembara Tebu" karangannya yang launching nanti pada tanggal 21 Mei 2016, di acara Makassar International Writers Festival. Loh, kenapa jadi bahas Jamil Massa yang mungkin lagi sibuk membungkus paket ke para penggemarnya.

Puisi yang tidak berjudul ini, cukup sederhana dan punya makna tersendiri pastinya buat dia dan saya. Namun, untuk mempermudah mengingatnya, puisi ini saya beri judul"Setelah 27 Hari". Alasan saya sederhana, karena puisi ini tiba setelah 27 hari dari ulang tahun saya, 6 april 2016 yang lalu.

Untukmu yang telah meluangkan waktunya, terima kasih atas puisinya. Saya senang dan penuh harap, kiranya ini bukan puisi terkakhir ya. Karena, saya yakin suatu saat kau akan jadi penggarang terkenal yang bersinar dari ujung barat Gorontalo. Sekali lagi, terima kasih.


SETELAH 27 HARI
Oleh: Cita (nama samaran)

Harum nafasmu masih hangat dalam ingatan
Aku terjaga dan senyummu nyata terasa
Detik ini, detik bersejarah penuh bahagia
Izinkan rangkaian kata sekedar menyapa

Waktu berjalan tiada henti
Mengiringi rembulan pula mentari
Yang terbit nan tenggelam setiap hari
Iringi usiamu yang terus bertambah hingga kini

Semoga setiap langkah semakin berguna
Harapku kau jadi seorang bijaksana
Punyai pula akhlak berwibawa
Tebarkan kebahagian dimana pun kau berada

Gorontalo, 3 Mei 2016


Monday, 25 April 2016

Puisi Balasan Ajari Aku


Tak perlu ku ajar dirimu
karena ku tahu kau mengerti tentang hal itu
Tentang rindu yang membelenggu
dan tentang aku yang menunggu

Disaat jauh hati kita menyatu
percayalah nanti kita akan bertemu
Aku yakin di suatu waktu
jangan pernah ragu tentang hal itu

Dirimu yang selalu muncul dalam benakku
entah itu saat pagi biru

Wednesday, 2 March 2016

Terima Kasih Handi Maksoed

Sejak kemarin, beberapa kawan mengucapkan selamat kepadaku. Ada yang via facebook pula via telepon. Tepatnya beberapa menit berselang setelah pengumuman pemenang "Sayembara Bekeng Logo Kedai Kopi Maksoed", yang digelar di kedai Sang Barista, Handi Maksoed. Selasa dini hari, 01 Maret 2016.

Beberapa minggu lalu, di kebisingan “Kota Daeng”, Makassar. Bermodalkan laptop

Tuesday, 2 February 2016

Jangan Menangis!

Untuk yang saat ini  entah berada dibelahan dunia mana
duduk dan bacalah surat ini jika pulang
Rumah ini selalu menanti merdu suaramu
dan jika sudah sampai, jangan lupa
tengoklah boneka beruang yang lelah menanti kedatanganmu

Ajari Aku

Ajari aku
agar rindu ini tak semu
tak lapuk sebab jarak nan jauh
walau purnamaku, pula purnama bagimu

Sunday, 31 January 2016

Aku Sendiri

Diantara lengkung cahaya
hawa dingin dan kaku jemari
Mengepul sembari menyeruput hangat kopi
aku sendiri