Sunday, 16 July 2017
Taman Bunga Edelweis
Sebuah tempat yang tak
pernah kosong dalam ingatanku, berada disudut kota membuat taman itu banyak pengunjungnya. Waktu yang berjalan
membuatnya jauh lebih indah dari sebelumnya. Banyak bunga yang tumbuh mekar secara
bersama-sama tak
terkecuali, perasaanku
padamu.
Taman bunga itu masih seperti
dulu tak ada yang berubah, letak kursi dan bau bunga tetap sama memancarkan aroma keindahan, sama halnya dirimu.
Aku ingat, aku pernah
terjatuh di lubang samping taman bunga itu. Dua kali tepatnya, pertama karena aku melihatmu
tersenyum, yang kedua karena kau menegurku dari belakang.
Aku melihat langit, aku
menemukan gambar bunga dari garis abstrak awan. Aku melihat bunga, aku menemukan pola
susunan langit dan awan. Kemudian, aku melihat matamu dan aku menemukan keduanya.
A,B,C,D urutan abjad yang
diajarkan di TK belakang taman bunga itu. Memecah suasana menjadi riang, lalu tiba
tiba aku melihatmu. Di depanku tersenyum melihat sepatuku basah kena air sewaktu menyiram bunga, edelweis nama bunga
yang kusiram waktu itu sama seperti namamu bunga abadi.
Taman bunga itu cukup luas
untuk menampung sebagian warga kota. Beberapa bunga tertentu, aku, adeleweis
dan kenangan bersamamu. Aku pernah berdoa kepada Tuhan
untuk mengirimkan wakilnya kemuka bumi. Lalu Tuhan menciptakan berbagai macam
bunga, tapi aku merasa ada yang belum sempurna.
Lalu aku berdoa kembali
kepada tuhan, lalu Tuhan menciptakan dirimu secara sempurna bersama dengan senyum
indah itu, senyum yang dapat mematikan nalar berfikirku. Akhirnya, aku menamai taman bunga itu
menjadi taman bunga abadi.
Edelweis. Makassar, 15 Juli 2017
Saturday, 15 July 2017
Lantai Yang Retak #2
ikut retak bersama lantai itu
Sayang yang pernah kau garis
ikut retak bersama lantai itu
Rindu yang pernah kau baris
pun ikut retak bersama lantai itu
Yang tersisa kini,
hanya pecahan tak berguna
yang menyakitimu dengan hebatnya
Pada lantai yang retak itu
kau tidurkan cintamu
kau istirahatkan sayangmu
dan kau matikan rindumu
Pada lantai yang retak itu
kau memaki
Pada lantai yang retak itu
kau menangis
Pada lantai yang retak itu
kau menyerah
DM
Thursday, 13 July 2017
Wednesday, 12 July 2017
Koperasi Sebagai Identitas Bangsa Indonesia Dan Tonggak Perekonomian Nasional
![]() |
| Hairialsah Malapu |
Oleh Hairialsah Malapu (Mahasiswa asal Bone Bolango yang sedang menempuh studi di Universitas Negeri Makassar).
Prolog
“Koperasi adalah usahabersama untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkantolong menolong (Moh. Hatta)”
Akhir-akhir ini membicarakan tentang Koperasi di Indonesia sama halnya membicarakan dongeng (cerita rakyat), yang seolah-olah koperasi itu pernah ada dan kemudian tinggal menjadi mitos pada akhirnya, inilah yang tergambarkan dizaman sekarang era teknologi dan inovasi serta globalisasi, semua yang berbau tradisional mulai terpinggirkan dan tidak mendapat tempat lagi di kalangan masyarakat (modernisasi).
Tetapi jika melihat sejarah panjang dari terbentuknya koperasi kita akan melihat bahwa disana terdapat sebuah perjalanan panjang yang dimulai sejak abad 20 yang ketika itu masyarakat kecil secara spontan ingin merubah hidupnya sehingga terlepas dari penderitaan ekonomi.
Sunday, 4 June 2017
Torosiaje dan Cerita Buah Samo
Selalu ada cerita disetiap perjalanan, saat semua terasa hambar dan
tak lagi berjiwa, bisik daun-daun tentang keindahan mengelitik telinga
untuk kesekian kalinya. Meronta atau berpura bukan alasan tepat untuk
benar-benar peduli, tapi cukup bagi sebagian penghuni kolong langit
memuja lalu menjamah, beralibi dengan pembenaran yang seakan benar.
Diatas percik air tak tenang senja itu perlahan bersenandung, "biduk berlalu kiambang bertaut", adalah cinta dan prahara diantara nasehat pemuda yang hampir tua. Cerita singamoore hingga malu dibalik jendela bambu, lalu buah samo sedikit asin penanda bulan baru, adalah layar diatas perahu untuk menujumu.
Diatas percik air tak tenang senja itu perlahan bersenandung, "biduk berlalu kiambang bertaut", adalah cinta dan prahara diantara nasehat pemuda yang hampir tua. Cerita singamoore hingga malu dibalik jendela bambu, lalu buah samo sedikit asin penanda bulan baru, adalah layar diatas perahu untuk menujumu.
Hijau kini menjadi abu-abu lepaskan putih asap diantara jeritan hutan
itu, terlarang atau dilarang siapa yang peduli sayang, bukan lagi cinta
jika hati terluka apalagi mereka yang bernyawa namun tak bersuara, yang
tertawa pun akan mati juga.
Akar-akar kehidupan menjadi ingatan dengan satu senyum yang terabadikan, dimana ada pengharapan disitu semangat untuk berjuang, cerita tentang paru-paru dunia selalu ada untuk mereka dan kita semua.
Torosiaje, 4 Juni 2015
Akar-akar kehidupan menjadi ingatan dengan satu senyum yang terabadikan, dimana ada pengharapan disitu semangat untuk berjuang, cerita tentang paru-paru dunia selalu ada untuk mereka dan kita semua.
Torosiaje, 4 Juni 2015








