Full Width CSS

Saturday, 15 July 2017

Lantai Yang Retak #2

Cinta yang pernah kau tulis
ikut retak bersama lantai itu
Sayang yang pernah kau garis
ikut retak bersama lantai itu
Rindu yang pernah kau baris
pun ikut retak bersama lantai itu

Yang tersisa kini,
hanya pecahan tak berguna
yang menyakitimu dengan hebatnya
Pada lantai yang retak itu
kau tidurkan cintamu
kau istirahatkan sayangmu
dan kau matikan rindumu

Pada lantai yang retak itu
kau memaki
Pada lantai yang retak itu
kau menangis
Pada lantai yang retak itu
kau menyerah

DM

Thursday, 13 July 2017

Musik Gratis | BACK IN SUMMER - Nicolai Heidlas [No Copyright]

Wednesday, 12 July 2017

Koperasi Sebagai Identitas Bangsa Indonesia Dan Tonggak Perekonomian Nasional


Hairialsah Malapu

Oleh Hairialsah Malapu (Mahasiswa asal Bone Bolango yang sedang menempuh studi di Universitas Negeri Makassar).

Prolog

“Koperasi adalah usahabersama untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkantolong menolong (Moh. Hatta)”

Akhir-akhir ini membicarakan tentang Koperasi di Indonesia sama halnya membicarakan dongeng (cerita rakyat), yang seolah-olah koperasi itu pernah ada dan kemudian tinggal menjadi mitos pada akhirnya, inilah yang tergambarkan dizaman sekarang era teknologi dan inovasi serta globalisasi, semua yang berbau tradisional mulai terpinggirkan dan tidak mendapat tempat lagi di kalangan masyarakat (modernisasi).

 

Tetapi jika melihat sejarah panjang dari terbentuknya koperasi kita akan melihat bahwa disana terdapat sebuah perjalanan panjang yang dimulai sejak abad 20 yang ketika itu masyarakat kecil secara spontan ingin merubah hidupnya sehingga terlepas dari penderitaan ekonomi.

 

Sunday, 4 June 2017

Torosiaje dan Cerita Buah Samo

Selalu ada cerita disetiap perjalanan, saat semua terasa hambar dan tak lagi berjiwa, bisik daun-daun tentang keindahan mengelitik telinga untuk kesekian kalinya. Meronta atau berpura bukan alasan tepat untuk benar-benar peduli, tapi cukup bagi sebagian penghuni kolong langit memuja lalu menjamah, beralibi dengan pembenaran yang seakan benar.

Diatas percik air tak tenang senja itu perlahan bersenandung, "biduk berlalu kiambang bertaut", adalah cinta dan prahara diantara nasehat pemuda yang hampir tua. Cerita singamoore hingga malu dibalik jendela bambu, lalu buah samo sedikit asin penanda bulan baru, adalah layar diatas perahu untuk menujumu.

Hijau kini menjadi abu-abu lepaskan putih asap diantara jeritan hutan itu, terlarang atau dilarang siapa yang peduli sayang, bukan lagi cinta jika hati terluka apalagi mereka yang bernyawa namun tak bersuara, yang tertawa pun akan mati juga.

Akar-akar kehidupan menjadi ingatan dengan satu senyum yang terabadikan, dimana ada pengharapan disitu semangat untuk berjuang, cerita tentang paru-paru dunia selalu ada untuk mereka dan kita semua.

Torosiaje, 4 Juni 2015

Monday, 13 February 2017

Lantai Yang Retak



Pada lantai yang retak itu
Ku titipkan rindu padamu
Rindu yang tak kau tahu
Rindu yang begitu merdu

Pada lantai yang retak itu
Kan kau temukan secarik tisu
Tisu yang menjadi saksi bisu
Saat aku ingin mendekapmu

Pada lantai yang retak itu
Aku menunggumu
Menunggumu
Menunggu


Makassar, 12 Februari 2017

Tuesday, 24 January 2017

Je'ne A'pangka

Je'ne A'pangka
Oleh: Carrolline

Tabe' Karaeng.
Dengarkan suara batin yang menerawang jauh
sejauh mata memandang.
Tubuh mudaku bersimpuh diatas debu
bercampur peluh bersulam dosa bagai benalu.

Dalam jasadmu, kau menangis
menyaksikan setiap inci kekacauan.
Dalam diammu, kau rasakan
setiap detik perubahan.

Saksikanlah, Puang!
Air mata, diambang siung reinkarnasi.

Kota Pangka Je'ne.
Kau sematkan je'ne sebagai nafas.

Kau permakkan pangka sebagai alur kehidupan.
Kota kecil yang tak akan tertindas
Para penjajah bertindak bengis.
Begitu katamu, Karaeng.

Kota Je'ne A'pangka.
Bagai segumpal darah tertumpuk
ditelapak tangan kecilmu.
Bagai sebutir air yang kau berikan
pada leluhurmu agar abadi dan lestari.

Bagai setumpuk uang
yang nilainya tak akan mati.
Kini berganti warna,
kutatap miris bergelimang air mata.

Karaeng. Pammopporang mama.
Darahmu terbalut dibambu runcing
Kujadikan tanda warisan yang membusung tinggi
Harta yang kau simpan, masih tersisa.
Dia adalah Liukang tupabbiring

Yang dulu kau suguhi surga meregang asa.
Anak yang kau pikul dan kau hargai
dengan seonggok darah dan bambu.
Dia adalah Tabo-tabo.

Yang dulu kau bangga-banggakan
akan belukar dan pohon yang berkemilau.
Kini meregang nyawa, dibantai
oleh manusia tak berprikemanusiaan.

Karaeng.
Rumahmu masih tersisa.
Dia adalah Biringere
yang dulu kau sebut rumah kokoh
bagi insan-insan dan kau tinggalkan.

Kini yang ada hanya bangkai ilalang.
Sebab gunung yang berpijar
kini retak tak berparas lagi.

Karaeng. Pammopporang mama.

Penulis adalah mahasiswi jurusan Bahasa dan Sastra Inggris di Universitas Muhammadiyah Makassar.

Saturday, 14 January 2017

Dari Kawanmu Yang Masih Menjadi Kawan


(Gambar: www.google.com)

Dengarlah dengan perlahan suara-suara yang entah darimana asalnya, tarik nafasmu dan ikuti iramanya. Irama ketulusan anak-anak remaja yang penuh kegirangan. Penuh dengan semangat untuk melakukan apa yang ia sukai.

Mungkin itu kata pembuka yang sedikit agak puitis untuk mememulai sesuatu yang entah berbicara tentang apa. Jujur saja aku pun bingung ingin membicarakakn apa setelah kalimat ini. Namun, jika kau berkenan mari sama-sama kita merenungkan dan berbicara dengan dirimu sendiri. Aku tidak sedang mengarahkanmu untuk melakukannya sendiri, aku ingin kau melakukannya bersama “diri dimasa lalu” atau mungkin bersama “diri dimasa depan”.

Untumu, aku ingin mengatakan bahwa ini akan terlalu rumit untuk dimengerti pada akhirnya, sekalipun memang begitu sederhana untuk diawal. Di malam yang hampir pagi disuatu kota, aku pernah berjalan menyusuri rintik-rintik hujan yang cukup membasahi kerinduan pada seseorang. Lampu-lampu kota, trotoar, sepeda motor, mobil, pria, wanita, semua adalah tentang kota seperti dibeberapa tempat lainnya. Yang cukup menarik adalah aku tak tahu sedang menuju kemana, padahal udara begitu dingin dan menusuk hingga ke tulang-tulang karena hujan bukannya berhenti malah bertambah deras.

Sampai disini, apakah kau mulai mengerti kemana arah pembicaraan ini? Jika sudah mengerti, maka harusnya aku mengakhirinya. Aku tidak ingin bersusah payah menceritakan sesuatu yang kau sudah mengetahuinya. Ini bukan semata tentang ceritaku, tapi apa yang kita lakukan pada orang kebanyakan diluar sana. Entah dipertemanan maupun dikeluarga. Kita sering sekali “merasa mengetahi” segalanya yang terjadi pada orang lain, padahal kita tidak sedikit pun mengetahuinya.

Apakah kau benar-benar memahami orang lain? Atau hanya sedang berakting ria untuk menunjukan kemampuan berbohongmu? Semua orang berhak menanyakannya, termasuk aku. Ya, menanyakannya padamu. Sekarang mari kita bertukar posisi, kau yang bercerita aku yang mendengarkan. Apa kau akan memulainya dengan kata-kata yang puitis sepertiku? Atau menajamkan peluru dan mengarhkannya pada orang yang mempercayaimu? Sederhana, ya sesederhana itu pertanyaanku. Seperti sesederhana mereka yang tak memiliki akses kesehatan, pendidikan dan hak untuk hidup yang layak. Kebanyakan orang diluar sana hanya ingin mendengarkan cerita bahagia, sementara dibalik dinding bambu tidak sedikit yang membungkam mulut anaknya yang kelaparan karena ulahmu.

Stop, kita sedang membicarakan apa? Aku mulai tidak mengerti kawanku. Untuk itu sudahi saja pembicaraan ini. Aku muak dengan tipu dayamu. Seperti halnya mereka yang berjanji diatas panggung megah dan dengan lantangnya ia berteriak lewat microphone bahwa “semua demi kesejahteraan”. Dan itu teriakan yang sangat menggugah yang ku denganrkan lima tahun sekali.

Pernahkah kau merasa muak dengan semua itu? Pura-pura tidak menyadari semuanya. Padahal dalam pikiranmu mengatakan ini tidak benar sama sekali. Mereka menggunakan segala cara demi kepentingannya dan kelompoknya. Percayalah, tidak semuanya demi kepentinganmu.

Kau mulai bingung dengan apa yang aku bicarakan? Kau ingin tahu yang sebenarnya, itulah yang ku rasakan jika memandang wajahmu yang penuh kepalsuan. Maafkan aku, kau sama saja dengan mereka.

Dari kawanmu yang masih menjadi kawan. Terima kasih.

Makassar, 14 Januari 2017