Kisah Ku
Oleh : Usman Dunda
Sore ini dia datang menemuiku,
Fadli namanya teman sekelasku. Dengan berlari dia menghampiriku seakan-akan
dikejar hantu. Seperti halnya mobil balap yang kehilangan pedal rem dia hampir
menambrakku yang sedang asik menikmati segelas kopi kesayanganku.

“Man.. si Cika Man, si Cika, si
Cika (sambil kelelahan)”
“Iya, si Cika kenapa? Tarik nafas
dulu lah biar ngomongnya jelas, kalau perlu duduk dulu. Nih ada kopi ada kue
buatan mamaku dicicipin dulu biar kamu santai.”
“Nggak Man, ini berita harus
secepatnya kamu ketehaui, aku aja tadi nggak percaya waktu teman-teman
ngomongin Cika di kantin kampus.
“Emangnya ada berita apa sih? Kenapa
juga teman-teman ngomongin si Cika? Oh.. aku tau, mereka pasti ngomongin aku
sama cika kan? (sambil tersenyum). Mereka pasti iri kan melihat usia pacaran
kami yang sudah 3 tahun (sambil menikmati kopi).
“Bukan Man, bukan itu maksud aku.”
“terus apa donk?
“Ya makanya dengarin aku dengan
serius donk, (agak kesal)”
Aku pun terdiam, saat melihat
wajah Fadli yang mulai serius. Karena aku tau sifat Fadli, jarang sekali dia
bicara dengan nada seperti itu.