Thursday, 13 July 2017
Wednesday, 12 July 2017
Koperasi Sebagai Identitas Bangsa Indonesia Dan Tonggak Perekonomian Nasional
![]() |
| Hairialsah Malapu |
Oleh Hairialsah Malapu (Mahasiswa asal Bone Bolango yang sedang menempuh studi di Universitas Negeri Makassar).
Prolog
“Koperasi adalah usahabersama untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkantolong menolong (Moh. Hatta)”
Akhir-akhir ini membicarakan tentang Koperasi di Indonesia sama halnya membicarakan dongeng (cerita rakyat), yang seolah-olah koperasi itu pernah ada dan kemudian tinggal menjadi mitos pada akhirnya, inilah yang tergambarkan dizaman sekarang era teknologi dan inovasi serta globalisasi, semua yang berbau tradisional mulai terpinggirkan dan tidak mendapat tempat lagi di kalangan masyarakat (modernisasi).
Tetapi jika melihat sejarah panjang dari terbentuknya koperasi kita akan melihat bahwa disana terdapat sebuah perjalanan panjang yang dimulai sejak abad 20 yang ketika itu masyarakat kecil secara spontan ingin merubah hidupnya sehingga terlepas dari penderitaan ekonomi.
Sunday, 4 June 2017
Torosiaje dan Cerita Buah Samo
Selalu ada cerita disetiap perjalanan, saat semua terasa hambar dan
tak lagi berjiwa, bisik daun-daun tentang keindahan mengelitik telinga
untuk kesekian kalinya. Meronta atau berpura bukan alasan tepat untuk
benar-benar peduli, tapi cukup bagi sebagian penghuni kolong langit
memuja lalu menjamah, beralibi dengan pembenaran yang seakan benar.
Diatas percik air tak tenang senja itu perlahan bersenandung, "biduk berlalu kiambang bertaut", adalah cinta dan prahara diantara nasehat pemuda yang hampir tua. Cerita singamoore hingga malu dibalik jendela bambu, lalu buah samo sedikit asin penanda bulan baru, adalah layar diatas perahu untuk menujumu.
Diatas percik air tak tenang senja itu perlahan bersenandung, "biduk berlalu kiambang bertaut", adalah cinta dan prahara diantara nasehat pemuda yang hampir tua. Cerita singamoore hingga malu dibalik jendela bambu, lalu buah samo sedikit asin penanda bulan baru, adalah layar diatas perahu untuk menujumu.
Hijau kini menjadi abu-abu lepaskan putih asap diantara jeritan hutan
itu, terlarang atau dilarang siapa yang peduli sayang, bukan lagi cinta
jika hati terluka apalagi mereka yang bernyawa namun tak bersuara, yang
tertawa pun akan mati juga.
Akar-akar kehidupan menjadi ingatan dengan satu senyum yang terabadikan, dimana ada pengharapan disitu semangat untuk berjuang, cerita tentang paru-paru dunia selalu ada untuk mereka dan kita semua.
Torosiaje, 4 Juni 2015
Akar-akar kehidupan menjadi ingatan dengan satu senyum yang terabadikan, dimana ada pengharapan disitu semangat untuk berjuang, cerita tentang paru-paru dunia selalu ada untuk mereka dan kita semua.
Torosiaje, 4 Juni 2015
Monday, 13 February 2017
Lantai Yang Retak
Pada lantai yang retak itu
Ku titipkan rindu padamu
Rindu yang tak kau tahu
Rindu yang begitu merdu
Pada lantai yang retak itu
Kan kau temukan secarik tisu
Tisu yang menjadi saksi bisu
Saat aku ingin mendekapmu
Pada lantai yang retak itu
Aku menunggumu
MenunggumuMenunggu
Makassar, 12 Februari 2017
Tuesday, 24 January 2017
Je'ne A'pangka
Je'ne A'pangka
Oleh: Carrolline
Tabe' Karaeng.
Dalam jasadmu, kau menangis
Kau permakkan pangka sebagai alur kehidupan.
Yang dulu kau bangga-banggakan
Karaeng.
Kini yang ada hanya bangkai ilalang.
Sebab gunung yang berpijar
Oleh: Carrolline
Tabe' Karaeng.
Dengarkan suara batin yang
menerawang jauh
sejauh mata memandang.
Tubuh mudaku bersimpuh diatas debu
Tubuh mudaku bersimpuh diatas debu
bercampur peluh bersulam dosa bagai
benalu.
Dalam jasadmu, kau menangis
menyaksikan
setiap inci kekacauan.
Dalam diammu, kau rasakan
Dalam diammu, kau rasakan
setiap
detik perubahan.
Saksikanlah, Puang!
Air mata, diambang siung reinkarnasi.
Air mata, diambang siung reinkarnasi.
Kota Pangka Je'ne.
Kau sematkan je'ne sebagai nafas.
Kau permakkan pangka sebagai alur kehidupan.
Kota kecil yang tak akan tertindas
Para penjajah bertindak bengis.
Begitu katamu, Karaeng.
Kota Je'ne A'pangka.
Bagai segumpal darah tertumpuk
ditelapak tangan kecilmu.
Bagai sebutir air yang kau berikan
Bagai sebutir air yang kau berikan
pada leluhurmu agar abadi dan
lestari.
Bagai setumpuk uang
yang nilainya tak akan mati.
Kini berganti warna,
Kini berganti warna,
kutatap miris bergelimang air mata.
Karaeng. Pammopporang mama.
Darahmu terbalut dibambu runcing
Kujadikan tanda warisan yang membusung tinggi
Harta yang kau simpan, masih tersisa.
Darahmu terbalut dibambu runcing
Kujadikan tanda warisan yang membusung tinggi
Harta yang kau simpan, masih tersisa.
Dia adalah Liukang tupabbiring
Yang dulu kau suguhi surga meregang
asa.
Anak yang kau pikul dan kau hargai
Anak yang kau pikul dan kau hargai
dengan seonggok darah dan bambu.
Dia adalah Tabo-tabo.
Yang dulu kau bangga-banggakan
akan belukar dan pohon yang
berkemilau.
Kini meregang nyawa, dibantai
Kini meregang nyawa, dibantai
oleh manusia tak berprikemanusiaan.
Karaeng.
Rumahmu masih tersisa.
Dia adalah Biringere
Dia adalah Biringere
yang dulu kau sebut rumah kokoh
bagi insan-insan dan kau
tinggalkan.
Kini yang ada hanya bangkai ilalang.
Sebab gunung yang berpijar
kini retak tak berparas lagi.
Karaeng. Pammopporang mama.
Penulis adalah mahasiswi jurusan Bahasa dan Sastra Inggris di Universitas Muhammadiyah Makassar.
Saturday, 14 January 2017
Dari Kawanmu Yang Masih Menjadi Kawan
![]() |
| (Gambar: www.google.com) |
Dengarlah dengan perlahan
suara-suara yang entah darimana asalnya, tarik nafasmu dan ikuti iramanya. Irama
ketulusan anak-anak remaja yang penuh kegirangan. Penuh dengan semangat untuk
melakukan apa yang ia sukai.
Mungkin itu kata pembuka yang
sedikit agak puitis untuk mememulai sesuatu yang entah berbicara tentang apa. Jujur
saja aku pun bingung ingin membicarakakn apa setelah kalimat ini. Namun, jika kau
berkenan mari sama-sama kita merenungkan dan berbicara dengan dirimu sendiri. Aku
tidak sedang mengarahkanmu untuk melakukannya sendiri, aku ingin kau
melakukannya bersama “diri dimasa lalu” atau mungkin bersama “diri dimasa depan”.
Untumu, aku ingin mengatakan
bahwa ini akan terlalu rumit untuk dimengerti pada akhirnya, sekalipun memang
begitu sederhana untuk diawal. Di malam yang hampir pagi disuatu kota, aku
pernah berjalan menyusuri rintik-rintik hujan yang cukup membasahi kerinduan
pada seseorang. Lampu-lampu kota, trotoar, sepeda motor, mobil, pria, wanita,
semua adalah tentang kota seperti dibeberapa tempat lainnya. Yang cukup menarik
adalah aku tak tahu sedang menuju kemana, padahal udara begitu dingin dan
menusuk hingga ke tulang-tulang karena hujan bukannya berhenti malah bertambah deras.
Sampai disini, apakah kau mulai
mengerti kemana arah pembicaraan ini? Jika sudah mengerti, maka harusnya aku
mengakhirinya. Aku tidak ingin bersusah payah menceritakan sesuatu yang kau
sudah mengetahuinya. Ini bukan semata tentang ceritaku, tapi apa yang kita
lakukan pada orang kebanyakan diluar sana. Entah dipertemanan maupun
dikeluarga. Kita sering sekali “merasa mengetahi” segalanya yang terjadi pada
orang lain, padahal kita tidak sedikit pun mengetahuinya.
Apakah kau benar-benar memahami
orang lain? Atau hanya sedang berakting ria untuk menunjukan kemampuan
berbohongmu? Semua orang berhak menanyakannya, termasuk aku. Ya, menanyakannya
padamu. Sekarang mari kita bertukar posisi, kau yang bercerita aku yang
mendengarkan. Apa kau akan memulainya dengan kata-kata yang puitis sepertiku? Atau
menajamkan peluru dan mengarhkannya pada orang yang mempercayaimu? Sederhana,
ya sesederhana itu pertanyaanku. Seperti sesederhana mereka yang tak memiliki
akses kesehatan, pendidikan dan hak untuk hidup yang layak. Kebanyakan orang
diluar sana hanya ingin mendengarkan cerita bahagia, sementara dibalik dinding bambu
tidak sedikit yang membungkam mulut anaknya yang kelaparan karena ulahmu.
Stop, kita sedang membicarakan
apa? Aku mulai tidak mengerti kawanku. Untuk itu sudahi saja pembicaraan ini. Aku
muak dengan tipu dayamu. Seperti halnya mereka yang berjanji diatas panggung
megah dan dengan lantangnya ia berteriak lewat microphone bahwa “semua demi
kesejahteraan”. Dan itu teriakan yang sangat menggugah yang ku denganrkan lima
tahun sekali.
Pernahkah kau merasa muak dengan
semua itu? Pura-pura tidak menyadari semuanya. Padahal dalam pikiranmu
mengatakan ini tidak benar sama sekali. Mereka menggunakan segala cara demi
kepentingannya dan kelompoknya. Percayalah, tidak semuanya demi kepentinganmu.
Kau mulai bingung dengan apa yang
aku bicarakan? Kau ingin tahu yang sebenarnya, itulah yang ku rasakan jika memandang
wajahmu yang penuh kepalsuan. Maafkan aku, kau sama saja dengan mereka.
Dari kawanmu yang masih menjadi
kawan. Terima kasih.
Makassar, 14 Januari 2017
Thursday, 12 January 2017
Apa Itu Realitas?
By Usman Dunda January 12, 2017
dunia khayal, dunia nyata, Kreasi, realitas, waktu yang berbeda No comments
Menurutmu apa itu realitas? Apa
itu kehidupan nyata? Jawaban sederhananya, mungkin adalah sesuatu yang dilihat,
diraba, dicium, dipikirkan. Dan mungkin masih banyak lagi teori yang dapat mendefinisikan
apa itu realitas.
Mari kita berbagi cerita tentang
hal sederhana ini. Bisa berangkat dari lingkungan sekitar kita; kehidupan teman,
saudara, guru, kakek, anak dan bahkan diri kita sendiri. Sekali lagi saya ingin
sampaikan untuk diketahui, bahwa saya hanya ingin berbagi cerita dengan Anda. Yang
mungkin bisa saja dalam hal ini, Anda adalah teman, saudara, guru dan bahkan
diri saya di “waktu yang berbeda”.
Kita mulai dari apa yang terjadi
saat ini, mungkin saja Anda sedang menggenggam sebuah handphone canggih yang
telah menemani keseharian Anda dalam waktu yang panjang hari ini. Bisa jadi layar
laptop atau PC. Dari benda ini, kita sering melihat banyak hal-hal menarik yang
tidak pernah kita ketahui sebelumnya. Yang dengan adanya kecanggihan media
sosial, hal itu bisa sampai dihadapan kita saat ini. Termasuk pemikiran saya
yang saat ini sedang Anda baca.
Lalu apakah saya berhadapan
dengan Anda? Jawabannya mungkin iya, mungkin juga tidak. Tapi Anda tidak bisa
pungkiri, disaat yang sama kita seperti orang yang telah lama saling kenal dan
sekarang berada di beranda rumah ditemani secangkir kopi seperti sedang
berdiskusi.
Kembali pada pertanyaan awal, apa
itu realitas? Saya tidak sedang ingin mendengarkan jawaban Anda menurut apa
yang Anda pernah baca atau dengarkan. Saya ingin mengetahui apa pendapat Anda
sendiri tentang realitas? Apa hal yang nyata menurut Anda saat ini, apa tentang
kebingungan tentang apa yang sedang Anda baca atau tentang apa yang sebenarnya
ingin saya sampaikan melalui tulisan ini.
Mari sejenak kita melihat
sekeliling, mungkin Anda pernah berfikir bahwa realitas itu adalah sesuatu yang
dapat dilihat dengan mata. Nah, sekarang saya ingin bertanya, apa realita yang
dilihat oleh orang buta, yang keseharaiannya menajamkakn telinga dan
perabaannya untuk menikmati dunia ini. Bisa jadi itu adalah suatu yang gelap
dan pekat, tanpa cahaya sedikit pun. Apakah kegelapan adalah realitanya? Bisa jadi
iya bisa jadi juga tidak. Saya harap Anda tidak langsung mengambil keputusan
untuk menjadi orang buta untuk membuktikannya. Karena masih ada beberapa
pertanyaan yang akan kita diskusikan lewat tulisan ini. Saya tidak ingin Anda
berhenti membaca ini, karena kegelapan yang dialami oleh orang buta.
Sekarang, apa pendapatmu tentang
realitas? Apakah ia adalah sesuatu yang dapat diraba atau dicium? Saya yakin Anda
sependapat bahwa tidak sedikit orang yang tidak memiliki kedua tanggannya untuk
merasakan bentuk benda yang ia lihat. Termasuk mengenal aroma bunga mana yang
cocok untuk pasangannnya. Kadang kita salah pilih bunga atau minyak wangi untuk
kita nikmati. Jadi sebenarnya apa realita yang mereka rasakan?
Sebelum Anda menjawabnya, mari
kita jalan-jalan dulu. Bayangkan Anda sedang duduk dipantai, rasakan dengan
perlahan butiran demi butiran pasir yang ada ditangan Anda. Hirup aroma pantai
dengan deru ombaknya yang begitu tenang. Dan lihat dengan seksama senyum riang
pasangan yang ada disamping Anda. Indah sekali bukan?
Cukup! Sekarang kita kembali fokus
ke diskusi ini. Apakah realitas adalah sesuatu yang lahir dari pikiran Anda? Seperti
apa yang Anda bayangkan tentang pantai, pasir, orama ombak dan tentang senyum
riang pasangan Anda tadi? Jawabannya masih belum jelas.
Dari sini mungkin Anda mulai ragu
tentang disukusi ini, piliihannya ada beberapa. Pertama, Anda bisa menyudahi
untuk membaca. Kedua, Anda mengiyakan kebingungan pikiran Anda. Ketiga, kita lanjutkan
diskusi ini.
Saya yakin Anda Anda belum lupa
inti pembicaraan ini, dunia nyata, dunia khayal dan realitas diantara keduanya.
Jika Anda sudah sampai dikalimat ini, itu berarti Anda mimilih jawaban yang
ketiga. Dan itulah realitas. Saya sedang berdiskusi dengan Anda sejak kata
pertama yang Anda baca.
Terima kasih. Sampai ketemu lagi.
Makassar, 12 Januari 2017











